Sabtu, 21 Mei 2011

SAMBUNGKAN RADAR BUMI..


19, 05, 2001
FOTO DARI ABY ARBYON
 
Jiwa dan pikiran berada dalam buih gelombang kerikil tajam...
Terombang, ambing lautan batuan bergerigil
Panasnya bagai bara candra dimuka
meleleh dan menghambur keluar dari sebuah gunung... 
Aku tertimbun berlapis-lapis dikedalamannya...

"Aku akan bangun.." seru jiwa lain yang akan muncul menggantikan jiwaku pada raga.
"Bukankah kau tidak mau meraga pada seorang perempuan? aku adalah perempuan.. jangan kau merasuk padaku, aku tidak akan kuat...
"aku akan meraga pada dua jiwa, satu perempuan satu laki2" desak jiwa yang lain menyingkirkan jiwaku..
Jiwaku berada di sampingnya memperhatikan ia menarik jiwaku dan jiwa cinta keabadianku...
"Bersatulah, aku akan berada diantara dua jiwa sebagai jembatan langkahku..."

Tanpa henti tembusan alam kotor menyembur dari otak pikiranku dihantam bercakan sinar putih... (Dalam tiga hari terakhir ini).
            "Siapa engkau, apa engkau hendak       menghancurkan bumi? apa engkau mahluk      dajjal? tidurlah seratus tahun lagi jangan kau bangun sekarang"                                             
                                                                         
"Bukan aku bukan penghancur juga bukan       dajjal, bangunku, ingin membersihkan bumi"                                                                                  
Terasakan begitu berat dan lengket serta           kesakitan menelusur setiap bagian syaraf         pusat pada mataku seakan ada yang hendak    meledak dari separuh bumi...                                                                                                         
Tgl 14, 05, 2011. FOTO DARI SANTOSO DIDI
Tembusan demi tembusan membebani seluruh pusat syaraf di kepala... membuka mata bathin pada kehancuran dunia mengarah pada jalur tengah.. jalur gaza... 
sebuah gunung di kedalaman laut mengobarkan api, membelah beberapa bagian mendatangkan gelombang demi gelombang tinggi... 
Sebuah gunung dihancurkan... tidak terdeteksi oleh tekhnologi canggih apapun...
jiwaku berada dalam lapisan dasar bumi menembus langit... 
Muntahan kotoran alam menghalangi seluruh bumi... jiwaku dalam kematian yang terkadang merubah bentuk menjadi alam mendengar suara ghaib secara berulang... "bangun, bangun.. bangkitlah! selamatkan negaramu, bangunlah.. bangkitlah, terlalu lama engkau tertidur"
Jiwa lain di sebelah jiwaku, tertahan oleh segala kekotoran bumi alam yang membutakan semua pandangan mataku...
"Aku tidak bisa bangun, penglihatanku terhalang lapisan-lapisan bumi, dan jika aku memaksa bangun, maka bumi akan hancur,  tapi aku terlalu lama tertidur, aku sudah lelah menadah segala kekotoran yang menghimpit seluruh tubuhku.. Aku ingin bangkit tetapi aku tidak mau hinggap pada raga perempuan.."
Jiwaku seakan terhimpit lagi dalam kehancuran alam... kepalaku pun seakan dibebani berbagai lapisan bumi yang hendak keluar... 
"Biarkan aku tertidur dan bangunkan aku seratus tahun lagi.."
 Jiwa lain seperti tertidur di samping jiwaku dalam kematian.
"Engkau harus bangun dan bangkit dalam waktu dekat"
 Jiwa lain tidak mau bicara lagi ia terlelap tertindih segala lapisan bumi alam.. Dan jiwaku terlelap dalam beban berat bumi...


Tgl 12, 05, 2011

Cintaku di ketinggian langit..., sudahi permainan kita sayang...
napasku sudah sesak menahan rindu pertemuan raga..
kau keindahan alam ku dan alamNya...
berdamailah bersama cintaku dengan apa adanya..
maafkan bila cara2ku menyakitimu lagi..
datanglah ragamu...
jangan menghilang...


Tgl 07, 05, 2011
PUSAT JARINGAN RADAR BUMI...


FOTO KIRIMAN DARI Dihertinwoso Tini Tini


Sambungkan jaringan pusat pada bumi...
akan ada meteor yang meledak
segara sambungkan jaringan pusat bumi
         Meteor akan diledakan                                 

Tgl 22,Mei 2011
BENCANA DUNIA


Jiwa itu ternyata yang pernah memperlihatkan ke AKU-annya yang mengikat kebesan jiwaku selama ini dari tahun 2005 kemudian mempengaruhi jaringan pusat bumi yang menyambung pada pusat syaraf mataku paling dalam. 

Jika mahluk penguasa alam ini ingin memperlihatkan tembusan sebagai kekuatan radar bumi maka aku tidak bisa menolaknya dan hampir tiap waktu, syaraf2 di wajahku ditariknya kedalam seperti ditarik sambungan kawat2 tajam hingga biji mataku seakan hendak melompat keluar tapi kelopaknya menembus ketajaman panca indra sebagai penyambungan otak belakang hingga menembus pada keadaan bentuk bumi yang meledak-meledak.. 

Ku lihat mahluk yang sudah lama tertidur menyatu pada jiwa dan alam pikirku akan terbangun diantara penyambung-penyambung alam yang membelit pada bumi.. 

Dari kelopak matanya ia menyambungkan pada syaraf mataku dan terlihat bentuk fostur tubuh tua renta seraba putih sebagai radar alam penyambung bumi, rambut panjangnya tergurai putih menjuntai-juntai pada seluruh sambungan2 bagian bumi yang akan meledak.. wajahnya tidak begitu jelas terhalang alam..

"Aku akan bangun... aku akan bangun"
"Engkau siapa?"
"Aku alam yang selama ini menuntut dalam perjalananmu"
"Kenapa harus aku? kenapa kau tidak singgah ke lain orang.."
"sudah, berhenti bertanya" debatnya.

Mahluk di samping jiwaku mempengaruhi seluruh jiwaku yang sudah lama dikuasainya.. kemudian aku merasakan kepedihan disekeliling mataku dan melihat benda2 tajam merejang seputar wajahku dan terasakan begitu pedas... 
Maka penyambungan alam kotor yang tajam menjadi kehancuran kembali mendaur ulang dalam otak pikiranku yang menampung kotoran/limbah bumi... 
Beberapa jam lamanya aku merasakan tarikan-demi tarikan pedas yang menyambung pada bumi alam, seperti terbiasa aku tidak bisa menolak penglihatan batin dari kejadian alam... kotoran yang tajam-tajam itu membaur dan menyatu kemudian pecah mengarah ke suatu tempat kemudian tergambar dari rekaman otakku sebuah pemandangan mengerikan... 
Limabh kotoran menjadi gelombang tajam yang bisa memecah-mecah tempat bepijak isi bumi dan menghancurkan sebuah negara besar yang disedotnya ke dalam bumi hingga terlihat sebuah bencana mendunia...

Gedung-gedung tinggi dan bangunan2 kokoh ditarik kedalam bumi hingga satu negara itu hancur lebur digulung kekotoran2 bumi....

Aku berusaha menghentikan penglihatanku tapi bencana mendunia itu terus menarik syaraf penglihatan mataku..

"itu sebuah negara besar akan hancur?" tanyaku..
"Negara yang berdiri di atas republik" jawabnya..

Aku terdiam melihat kehancuran sebuah negara.. Kemudian pandangan beralih pada suatu negara lain yang sama hendak dihancurkannya...

"itu negara sebuah negara federal?" tanyaku lagi
"Yah separuhnya akan ku lenyapkan"

Separuh negara yang bangunannya kokoh terdiri dari tempat ibadah umat muslim dan bangunan gereja turut serta dihancurkan

"Ini keseimbangan bumi" ungkap bisikan ghaib...

Sesudah memperlihatkan kehancuran negara Republik dan negara Federal, penglihatanku kembali ditenangkan. Namun sisa2 tarikan alam masih kurasakan beratnya dalam seputar kelopak mata... 

Tentunya aku akan selalu merasakan semua proses kesakitan di pusat syarafku hingga terjadinya bencana besar mendunia yang mendaur ulang di otak kepala seperti yang sudah2 sebelum bencana terjadi semua akan kurasakan terlebih dahulu ibarat menjemput kematianku....
 Ya Allah... kenapa Engkau tidak renggut nyawaku saja.. Jiwaku begitu tersiksa selama ini.. apa salah dan dosaku sehingga Engkau berikan kehancuran2 alam bumi lewat pandangan batin yang berproses di otak kepalaku... 
Namun jika Engkau menginginkan seperti ini dalam seluruh kehidupanku... maka akupun menunggu jemputan Engkau dalam damai..
kembalikanlah aku dalam pandangan awal melihat keagunganMu dengan istana-istana kerajaaan langit yang gemerlap dipenuhi kuda2 pangeran... 
Kembalikan penglihatanku pada kekayaan Engkau ya Allah...

Dan suara adzan kembali mendengung timbul tenggelam setiap waktu.. Entah apa yang akan terjadi pada semua keadaan di alam ini... 


AKU TERINGAT PADA GAMBARAN DUA TAHUN LALU...  DIPERLIHATKANNYA SEBUAH BANGUNAN KUNO YANG SANGAT LUAS SEKALI, BERWARNA COKLAT TANAH... BANGUNANNYA BERKERUCUT-KERUCUT.. 
BANGUNAN SELUAS PULAU ITU MUNCUL DARI KEDALAMAN LAUT HENDAK TIMBUL KEPERMUKAAN... DIBARENGI SUARA GHAIB MEMBERI PENJELASAN...
" LAUTAN MENJADI DARATAN, DARATAN AKAN MENJADI LAUTAN... PENYEIMBANGAN BUMI..." 



Nenden Salwa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar